MINGGU 12
Sabtu, 5 Maret 2022

Sesi belajar dalam Pendidikan Guru Penggerak di minggu ini hanya berjalan di hari Selasa, Rabu, dan Jumat. Hari Senin dan Kamis merupakan libur Hari Besar Keagamaan, tepatnya Senin adalah Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW dan Kamis adalah hari raya Nyepi umat Hindu.

Materi yang dipelajari dalam tiga hari di minggu ini adalah eksplorasi konsep terkait pembelajaran sosial emosional. Dalam modul 2.2. calon guru penggerak mempelajari beberapa artikel tentang kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran sosial, ketrampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggungjawab. Calon guru penggerak juga melakukan studi terhadap kasus Pak Eling. Terdapat lima soal studi kasus Pak Eling yang harus diselesaikan oleh calon guru penggerak berdasarkan konsep yang telah dipelajari sebelumnya.

Pak Eling merupakan tokoh yang digambarkan sebagai seorang guru Geografi yang memiliki banyak tuntutan peran dan tanggungjawab. Pada masing-masing kasus digambarkan permasalahan yang dihadapi Pak Eling terkait dengan menajemennya akan banyak peran yang dimilikinya. Satu-persatu soal studi kasus diselesaikan dengan berdasarkaan pada konsep kesadaran diri (mindfulness), bagaimana strategi yang bisa dilakukan untuk berlatih mindfulness, pengelolaan diri, kesadaran sosial dan ketrampilan berempati, ketrampilan berelasi, kerjasama dan resolusi konfilk, serta bagaimana dan apa yang bisa dilakukan untuk menjadi pengambil keputusan yang bertanggungjawab.

Mendalami beberapa kasus dari Pak Eling, seorang guru yang memiliki tuntutan peran dan tanggungjawab yang banyak, sekaligus memunculkan rasa empati saya, karena itulah yang mungkin sedang saya hadapi saat ini. Hal ini sekaligus menjadi bahan pembading dan pembelajaran yang luar biasa berguna buat saya. Selain tugas pokok mengajar di sekolah, tugas tambahan sebagai wali kelas, tugas Pembina Kader Adiwiyata, tugas dan peranan dalam organisasi MGMP kabupaten, Komunitas Guru Menulis, Redaksi Majalah Cahya Widya, dan juga ISPI kabupaten merupakan tugas dan peranan yang harus saya jaga keseimbangannya. Tugas-tugas itu masih ditambah lagi dengan peran saya sebagai seorang ibu di dalam keluarga dan calon guru penggerak. Alhamdulillah mempelaji pembelajaran sosial emosional ini sangatlah bermanfaat bagi diri saya pribadi juga untuk saya bisa menyeimbangkan semua aktivitas yang saya miliki sekaligus bisa menjalankan peran dengan baik dan pengambil keputusan yang bertanggungjawab.

Sebenarnya terdapat satu teknik kesadaran diri (mindfulness) yang saya telah seringkali lakukan dalam keseharian, juga saya terapkan dalam pembelajaran, yaknik teknik STOP. Saya sudah menerapkan ini di kehidupan saya sehari-hari juga di dalam kelas di awal pembelajaran sebelum saya membaca tentag konsep atau teori mindfulness. Sehingga teknik ini bukan lagi hal baru buat saya. Namun demikian, terdapat hal yang benar-benar baru bagi saya di pembelajaran kali ini yakni terkait kerangka POOCH dalam mengambil keputusan yang bertanggungjawab. POOCH yang berarti mengidentifikasi masalah (Problem), mengidentifikasi alternatif yang bisa dilakukan (Options), mengetahui hasil atau konsekuensi baik positif maupun negative yang mungkin akan timbul (Outcomes), dan mempertimbangkan keputusan yang baik (Choices), serta melakukan refleksi untuk mengetahui keberhasilan mencapai tujuan dari pengambilan keputusan yang dilakukan.

InsyaAllah di masa depan, saya akan menerapkan teknik dan strategi yang baru saya pelajari ini untuk diri saya pribadi juga untuk pembelajaran terhadap murid-murid. Dengan pembelajaran berdiferensiasi dan sosial emosional ini sepertinya pembelajaran akan sangat menginspirasi murid untuk betul-betul aktif dalam mendalami apa yang mereka butuhkan untuk hidup. Terimakasih untuk Kemendikbud dan segenap insan yang terlibat dalam pelaksanaan program guru penggerak ini. Instruktur, Fasilitator dan juga Pendamping Praktik saya. Terimakasih. Mohon support senantiasa untuk kemajuan diri saya sendiri dan kemajuan pendidikan yang saya selenggarakan.