Sebuah Catatan Guru Penggerak

 Sabtu, 20 November 2021

MINGGU 5

Hari Senin, 15 November 2021, peserta melakukan video conference dengan instruktur pada sesi Elaborasi Pemahaman. Instruktur yang bersama kelas D-4-024 adalah Chritian Puguh Sulistyo. Kelas D-4-024 dengan Fasilitator Ummiyati Ningsih, M. Pd. bergabung dengan kelas dari Kabupaten Grobogan dalam sesi video conference ini, sehungga jumlah peserta ada sekitar 75 orang.

Hari Rabu, 17 November 2021, peserta menyelesaikan tugas Koneksi antar Materi dalam bentuk video dan diunggah di LMS.

Hari Sabtu, 20 November 2021, peserta berlokakarya 1 di Fave Hotel Cilacap. Topik yang diagendakan dalam lokakarya ini adalah: (1) Pengenalan kompetensi guru, (2) Posisi diri kita terkait dengan kompetensi sebagai guru penggerak, dan (3) Membuat rencana pengembangan diri.

Dalam minggu kelima ini, saya merasa bertambah semangat sekaligus bertambah juga keberanian saya untuk bergerak, khususnya setelah sesi video conference dengan instruktur. Selain itu, dengan adanya kelompok-kelompok penyelesaian tugas dalam diklat ini, saya merasa senang karena bertemu lebih banyak orang yang memiliki visi yang serupa tapi dengan kondisi dan lingkungan yang berbeda.

Saya mendapatkan satu perumpamaan dari instruktur yang cukup memantik semangat dan keberanian saya, yakni tentang bagaimana sikap kita saat ada lampu merah. Manakala semua kendaraan di depan kita melaju dan tidak mengindahkan lampu merah, mana yang akan kita lakukan, apakah tetap melaju atau berhenti? Kalau kita melaju, orang di belakang kita akan mengikuti, dan kalau kita berhenti, paling tidak juga ada orang di belakang kita yang ikut berhenti. Inilah perumpamaan yang diberikan manakala kita sebagai guru penggerak akankah terus bergerak, memajukan pendidikan dengan mengembalikan filosofi pendidikan ke pemikiran Ki Hadjar Dewantara atau tidak dan mengajar seperti yang sudah-sudah.

Satu lagi kalimat yang saya dapatkan dan saya ingat, yakni kalimat yang disampaikan oleh Pengajar Praktik, Ibu Navy Hardiati, yakni bahwa murid kita di kelas adalah beragam. Tidak satupun mereka sama, ada yang berfikir cepat, ada yang lambat, ada yang langsung paham, ada yang tidak. Kalimat beliau juga terasa menyolok mata saya yang selama ini seringkali hanya melihat anak-anak yang pandai saja di kelas dan kurang memperhatikan bahkan cenderung meninggalkan anak-anak yang tidak kunjung paham akan materi pembelajaran.

Hal ketiga yang saya dapatkan adalah pada saat lokakarya saya jadi mengetahui posisi saya terkait dengan kompetensi guru penggerak. Sehingga saya bisa menyusun rencana pengembangan diri untuk ke depannya.

Saat lokakarya sudah muncul rencana sederhana untuk pengembangan diri saya, yakni: (1) menyosialisasikan prinsip pemikiran Ki Hadjar Dewantara sekaligus memberikan pelatihan tentang penggunaan padlet terhadap rekan sejawat di sekolah dan MGMP Kabupaten awal semester 2 atau secepat-cepatnya akhir semester 1, saat libur semester, dan (2) terus melanjutkan dan sekaligus  mengawinkan program pengembangan sekolah Adiwiyata Mandiri untuk SMA Negeri 1 Kroya dengan rencana pengembangan diri saya.


To be continued to MINGGU 6